Toko Es Krim Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Toko Es Krim


     Sebuah pemandangan yang tak biasa terjadi di pagi itu, aku melihat tetesan embun yang  tertempel pada ujung-ujung ilalang, rasanya masih pagi mengingat kala itu kita berdua berpegangan tangan saat hujan gerimis di sudut toko es krim. Menunggu tetesan dari langit berhenti sediakalanya, kita tetap menunggu sambil kamu menikmati es krim coklat keseukaanmu. Ada warna merah jingga yang terlukiskan  saat aku melihat langit, ada senyuman kecil nan indah terpancar saat bibir ini tak mampu katakan apapun ketika aku melihatmu. Pernah ada cerita sederhana yang sampai meneteskan air mata, pernah ada cerita yang sederhana saat aku tak percaya bahwa kamu mampu merubah kegelapan membentuk keindahan tanpa kata, tanpa waktu yang lama untuk mengiringi langkah kecil kita.

 


Satu tahun lalu, hari sabtu bulan sebelas dua ribu lima belas. Adalah rangkaian panjang telah menemani hari-hari kita, hidup akan selalu menemukan kita dan mengirini jalan yang telah kita pilih. Aku mengerti betapa inginnya kamu lari, kamu berteriak sekencang-kencangnya. Betapa inginnya kamu meneterskan air mata yang sudah tertahan dipelupuk mata, betapa inginnya kamu bernafas lega bebas tanpa beban di kepala. Mungkin masih ada rindu. Hanya saja sudah tak ada waktu. Lalu kita apa, bermain-main yang terbawa perasaaan, dipeluk dirimu aku mabuk, dipeluk rindu aku remuk.


Komentar

Postingan Populer