Akun Yang Sudah Berdebu Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Akun Yang Sudah Berdebu

 

Aku mencoba membuka riwayat pesan singkat yang sudah lama terarsip, sudah hampir satu windu aku coba kembali membacanya, rasanya seperti akun yang sudah berdebu. Sampai passwordnya saja aku hampir lupa, oh yah aku ingat kala itu dia menyukai salah satu kartun kesukaannya yang setiap hari minggu selalu tanpa terlewat di tonton olehnya, ('Powerpuffgirl24'.) Ingat ku,  Kembali senyum kecil mengulang memori kala itu seolah lengan ini di tarik kebelakang, jangan risau, ini bukan perasaan ingin kembali ini hanya sebuah tentang waktu yang pernah hadir tentang kenang di dalam waktu yang sampai saat ini teringat kembali, yaitu seseorang yang pernah aku relakan pergi demi bisa bersama yang dirinya inginkan dan impikan. 






Sementara kita saling berbisik diantara dua hati yang sebenarnya tidak ingin saling melepaskan, kita saling berbisik pada debu di setangkai bunga kertas, sementara di luar semakin sengit angin malam yang aku berjalan saja kaki ini bergetar seolah ingin memadamkan angin yang begitu menyekap pada langkah-langkah yang bersikeras masih mengejar bayangannya. Bahwa kelak suatu hari nanti kamu akan menyadari tidak ada lagi seseorang yang selama ini masih berjuang dengan nafas yang sama, dengan telinga yang selalu mendengar segala keluh mu, mendengarkan segala hal-hal yang selama ini kamu tumpuk di kepalamu. Aku hanya berharap kamu paham bahwa ada yang bernama hati telah hanyut dan pergi bersama bahagiamu.

 


Komentar

Postingan Populer