Aku & Hujan di bulan Juli Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Aku & Hujan di bulan Juli

Hujan menutupi senja di minggu kedua bulan juli, sedikit berkabut diantara penghujung malam, dimana bidadari itu bersembunyi, menghela sedikit nafas dari akan datangnya gelap dan sunyi. Merasakan angin yang berhembus hingga hampir merasuk ke dalam tubuh, aku takut akan elegi pagi menyapa dan berbisik kepadaku tentang hujan datang di bulan juli yang hanya sekali, hingga tak terdengar suara rintikannya seolah pergi meninggalkan jejak. Lelapkan tubuh yang hampir lelah mencari entah apa yang di tunggu sebelumnya?



Dan ketika pagi itu datang di tutupi awan gelap, tanpa rintikan hujan yang datang tak terdengar. Menutupi kesedihan yang mungkin angin pun takkan bisa mengendalikannya. Berteriak tak lagi mampu dan diam hanya sebagai salah satu cara yang bisa dipahami.


Sejuk rasanya bisa melihat sosok mentari yang menghangatkan tulang gelisah diantara memahami relung peraduan yang salah. Banyak orang menghabiskan waktu untuk mengejar pagi, banyak orang menghabiskan waktu untuk memikirkan dirinya sendiri, banyak orang menghabiskan waktu untuk hanya menunggu datang nya pelangi setelah rintik hujan. Tapi aku hanya ingin menghabiskan waktu saja berdua denganmu. Iyah, hanya denganmu dengan sosok yang bisa menerangi tubuh ini dalam pesan dengan tatapan sosok matanya.


Menenangkan setidaknya bukan hanya didalam hati tetapi merasuk kedalam sebuah pikiran yang hampir hanyut tak berlogika. Saat dia menghapus air mata yang tertutup debu di wajahku, aku hanya terdiam menatap wajahnya yang pernah sendu ini, dan tersenyum tanpa bicara dan terus menatap apa yang pernah menjadi bagian kosong seolah ‘makna’ tiada arti.


Tak ada sayap yang bernyawa, bersama menerangi kembali sebagian sisi gelap dan kosong. Kemudian aku bertanya-tanya pada diri, dimana bidadari itu bersembunyi? Seakan gemuruh petir mengejarnya berlarian hingga dia terlupa akan seharusnya. Saya sedikit ceritakan kepadamu tentang sayap yang pernah patah, tulang yang pernah remuk dan getirnya sebagian hidup seperti sebuah sekenario yang tertulis indah yang akhirnya kita tersadar bahwa indah angan dan berharap, yang terkadang belum tentu menyenangkan hanya kepada-Nya. Ternyata membuat kita lebih kuat membuat kita paham dan semuannya tidak harus di mengerti oleh paradigma sebuah pikiran yang berisikan ego.


Pada akhirnya hujan turun dibulan Juli tanpa berkata sepatah kata dan tak tersampaikan…..

Komentar

Postingan Populer