Entri yang Diunggulkan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pangeran Bersuara Hujan
Aku mendengar suara telapak kaki kuda seperti berlarian mendekat, penasaran ingin sekali melihat sosok itu dari jendela lantai dua rumah tua yang berada di tengah hutan, bertaut pada dinginnya malam itu kurasakan. Sorai angin berhembus kepada jendela kayu yang tampak tua, kepada deburan ombak laut yang sedang pasang dan kepada ilalang yang sudah lama mengering, menjadikan suara terdengar menggema seakan tak ada sekat-sekat dinding diantara suara yang menggema diantara rintikan hujan dan suara lainnya.
Ada sosok pengeran bersuara hujan datang, yang membawa semua kenangan seakan menigingatkan sebuah urutan waktu yang telah lama tergantikan dengan yang baru, ada suara lirih yang bergemuruh dari rintikan hujan yang datang, sebuah pertanyaan yang saat itu terjadi, hatimu yang akan menuntunmu. Suara hujan mengingatkan kembali sebuah cerita yang pernah tertulis pada sebuah buku berdebu oleh waktu, mungkin pernah terjadi antara kamu dengannya ketika masih bersama, kenangan itu dan tak akan pernah kembali. Memang sebuah pilihan yang sangat sulit untuk memilih, tapi kata hati memang selalu memberikan intuisi sebuah perjalanan yang takkan pernah bisa terhapuskan, saat ia memilih mengingatkan kembali cerita yang pernah terjadi, sayangnya hujan tersebut pergi meninggalkan yang belum tersampaikan tanpa suara gemuruh petir, tersirat kenang diantara awan dan hujan yang hadir tidak selalu membasahi, tapi seringkali menunda sesuatu yang tak diinginkan. Semuanya pasti punya alasan karena setiap doamu yang kamu rangkai pada setiap malam yang hening, adalah sakitmu pada setiap tetes air mata jatuh tak beralasan, adalah harapmu pada setiap gemulai rintik hujan dan adalah pangeran bersuara hujan, yang mampu membuatmu tidak lagi mengingat sesuatu hal-hal tentangnya disaat hujan itu datang menatap dalam matamu. Kecuali rindu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar