Apa Kabar Prajurit Istana Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Apa Kabar Prajurit Istana


 

Kadang bertengkar dengan isi kepala sering bergumam dengan hati, ceritakan tentang peperangan prajurit yang bernama angkuh dan ego, melawan para tawanan yang berada di bawah tanah hampir menyatu dengan dinding, teriakan seolah tak terdengar seakan tak dianggap nyata. Terlihat para bidadari tahta kerajaan berbaris tak sejajar dengan elok terbenam senja dalam nyanyian peri terbunuh dalam bicara tak tersampaikan.

 

Para tawanan tersiksa sunyi, terdengar serius padahal jalanan tak lurus berada di samping angkuh rasanya menginginkan hadir, di sebelah ego rasanya peluk yang nyata.

Semesta tidak pernah kecewa memberi kabar kepada angina tentang nada dingin menutup jalan menuju rumah, yang bernafas pasti bernyawa, yang bersayap pasti berawan.




 (...)

Apakabar sang prajurit istana di balik pintu kayu pasti sedang terluka parah, sesmenjak senyumnya patah.

Segerombol manusia bertangan empat berlarian memadamkan api, ada rindu di balik kalbu tentang rasa yang tersembunyi di balik pintu kayu, ada perasaan terbunuh perlahan, jantung enggan berdetak dan nafas sulit berhembus, sesak tak mau mati berbicara tentang senyuman yang telah patah, semestapun berduka.





Komentar

Postingan Populer