Teman Searah Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Teman Searah




Gorilla and Hamster 

(Part. V)


         Minggu pertama di bulan April tahun dua ribu dua puluh satu, awan mendung serta rintikan hujan mulai membasuh jatuh merebah ke bumi, langit-langit semesta pagi itu tak secerah biasanya, tak ingin aku menunggunya hingga selesai dan mentari segera menyapaku dengan senyuman yang berpeluk pada guling di kamar heningku tempatku bercerita tentang kecemasan yang hampir setiap malam tak mau berdialog denganku. Inginku, Sepanjang usia kita bersama, tetap selalu berpegangan tangan dan menari dengan desik angin yang membawa setiap langkah dan rambutmu yang terurai menghempaskan sebagian tawa yang selalu teringat dalam detik yang terus berdetak tak henti. Lantas aku hanya ingin terus menatap senyuman dan kita menjadi teman searah, teman yang sama-sama saling berdiskusi dengan waktu yang kosong dan bertemu diantara semesta dan pagi yang selalu menyapa hanya senyumanmu yang pertama kulihat dihari demi hari dan pagi menyimpan kebahagiaan diantara harum semerbak kopi buatanmu yang selalu menghadirkan senyum kecil dan tatapan bola matamu menyadarkanku tetap jadi teman hidup dan teman searah, kuingin semuanya sejalan segala harapan sebayam dalam impian dan doa. 


                                


(coffee on ur head)*

pernah hadir dengan segala kegundahan yang hilang bersama senja yang pudar, hadir bersama dengan segala kecemasan yang seolah hilang ditelan rindu memecahkan khayal dan kabut pun bersambut bersama setengah purnama yang kadang menyebut namamu dalam baitnya rintihan doa terpanjatkan sebuah keikhlasan dalam menjalani apa yang telah di takdirkan Allah dan semestapun membawa senyumnya di setiap redupnya lampu di pojok taman depan rumah tak menghadirkan gemuruh suara desir angin dan kala itu rindu melukiskan keseimbangan, salam untuk sang pencipta dari aku langit dan biduk bintang tak tertutup awan.


Komentar

Postingan Populer