(...)//dummody
Pertemuan itu adalah hari terbaikku, hari dimana aku pertama kali melihat paras senyuman indah di wajahnya.
Aku seolah terbius dalam detak waktu tak kuasa menatap indah sepeti senja
terbingkai sempurna di semesta. Aku tak tau mengapa hari itu adalah hari yang
sangat baik, seperti sang awan membiru bersama langit, aku tidak berfikir mengenalinya
untuk hari itu atau hari–hari lainnya, tapi mengapa ada sesuatu yang tak bisa
aku kendalikan seperti hujan yang ikhlas jatuh merebah ke bumi.Sepertinya untuk
berbohong saja, waktu menertawakan dengan ejekkan bingar ditelingaku, enggan sebenernya aku mendengarnya seperti terus menertawakan dan mengejek keangkuhanku untuk
mengetahui saja nama perempuan itu, hari itu dengan senyumnya tepat saat ia
menoleh kehadapanku dengan mungkin senyuman tipis lembut terbaiknya, aku ingin menjadi
munafik seperti peri-peri kecil itu yang berlarian ketika para pangeran berkuda
itu turun membawa sebuah tangkai berlebah.ahhh..macam-macam saja pikiranku dibuatnya
cemburu seperti anak katak yang berlarian cemas tak ingin rindu bersama
rintikan hujan, rasa yang begitu ingin kembali dengan berpura-pura menjadi si
munafik ingin bertemu kembali ketika hari kemarin, belum enam puluh menit
tebayang-bayang saja wajahnya yang seperti berenang di pikiranku mauku menenalmu
tapi cara diriku menyukaimu entah secara tiba-tiba dan belum dalam keputusanku. Aku
merasakan ada sesuatu yang berbeda dan tak pernah aku mengerti yang selalu mengajarkanku
berproses dari banyak pelajaran terbaik. Aku belajar berdamai dengan caraku berfikir
baik, memahami hal-hal yang aku rasa anggap baik dan yang terpenting aku belajar caranya
meluangkan waktu berdiskusi dengan diriku sendiri. Aku dan pikiranku mencoba menampik
akan kehadiranmu, seandainya ada waktu untuk aku mengucapkan kalimat saat aku bertemu
denganmu, aku tidak akan mengucapkan bahkan memanggilmu pada saat itu, karna aku
tau hal itu akan membuang-buang waktumu, waktu kita, waktu yang tak pernah kita
sadari "bahwa kita lupa setiap kita kadang dalam hidup akhirnya merasakan saling
menyakiti dan harus bepisah oleh keadaan, akhirnya kita harus saling sama-sama menyikapi takdir
yang maha baik."
goo&ester*
Komentar
Posting Komentar