Belum Dalam Keputusanku Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Belum Dalam Keputusanku










(...)//dummody

Pertemuan itu adalah hari terbaikku, hari dimana aku pertama kali melihat paras senyuman indah di wajahnya. Aku seolah terbius dalam detak waktu tak kuasa menatap indah sepeti senja terbingkai sempurna di semesta. Aku tak tau mengapa hari itu adalah hari yang sangat baik, seperti sang awan membiru bersama langit, aku tidak berfikir mengenalinya untuk hari itu atau hari–hari lainnya, tapi mengapa ada sesuatu yang tak bisa aku kendalikan seperti hujan yang ikhlas jatuh merebah ke bumi.Sepertinya untuk berbohong saja, waktu menertawakan dengan ejekkan bingar ditelingaku, enggan sebenernya aku mendengarnya seperti terus menertawakan dan mengejek keangkuhanku untuk mengetahui saja nama perempuan itu, hari itu dengan senyumnya tepat saat ia menoleh kehadapanku dengan mungkin senyuman tipis lembut terbaiknya, aku ingin menjadi munafik seperti peri-peri kecil itu yang berlarian ketika para pangeran berkuda itu turun membawa sebuah tangkai berlebah.ahhh..macam-macam saja pikiranku dibuatnya cemburu seperti anak katak yang berlarian cemas tak ingin rindu bersama rintikan hujan, rasa yang begitu ingin kembali dengan berpura-pura menjadi si munafik ingin bertemu kembali ketika hari kemarin, belum enam puluh menit tebayang-bayang saja wajahnya yang seperti berenang di pikiranku mauku menenalmu tapi cara diriku menyukaimu entah secara tiba-tiba dan belum dalam keputusanku. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dan tak pernah aku mengerti yang selalu mengajarkanku berproses dari banyak pelajaran terbaik. Aku belajar berdamai dengan caraku berfikir baik, memahami hal-hal yang aku rasa anggap baik dan yang terpenting aku belajar caranya meluangkan waktu berdiskusi dengan diriku sendiri. Aku dan pikiranku mencoba menampik akan kehadiranmu, seandainya ada waktu untuk aku mengucapkan kalimat saat aku bertemu denganmu, aku tidak akan mengucapkan bahkan memanggilmu pada saat itu, karna aku tau hal itu akan membuang-buang waktumu, waktu kita, waktu yang tak pernah kita sadari "bahwa kita lupa setiap kita kadang dalam hidup akhirnya merasakan saling menyakiti dan harus bepisah oleh keadaan, akhirnya kita harus saling sama-sama menyikapi takdir yang maha baik."



goo&ester*


Komentar

Postingan Populer