Tenang-Tenang Aja Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Tenang-Tenang Aja



(...)

Sore ini duduk di kursi dengn secangkir kopi hangat menemani sebuah angin yang membuat rambuatnya berkibar menghdap arah laut yang sendu dan biru tak beraturan sura deburan tak biasany sehangat menyapa, terlamun dalam bayang senja  berwarna layung ingin rasanya menutup hari ini dengan tenang tenang sepertinya sedang menunggu giliran, tenang-tenang yang terasa terlintas di dlam pikir sebuah kepala, membuat sayu matamu yang indah hitam menjadi bagian abu-abu yang tak terlihat dalam purnama terakhir dalam penantian panjang, hanya ada lelah bergumam enggan kerasdi dalam bibir tak mampu ucapkan yang seharusnya. Apakah aku seharusnya mengikuti setiap arah mata angin melangkah, entah kemana peginya. Telah datang para pasukan awan gelap memaksa menutupi langit kala sore itu, ahh, aku sudah tau rupanya, dia tidak berbadan besar, bahkan dengan sangat mencintai langit karna dia tahu bahwa dengan hujan dapat membawa sesuatu yang lebih berkah dan mungkin yang kita sampai hari ini hujan kadang selalu membawa kerinduan yang berbeda-beda, tenang-tenang nanti juga pasti dapat gilirannya. 





(insidebook)

Saat ini aku seperti berada di tengah-tengah buku yang belum selesai pada endingnya, rasanya sangat kelise, dengan setiap aroma khas buku dan setiap helai kertas terus aku buka, ada banyak cerita yang belum sempat aku bagikan tentang rasa, tentang kekeliruan dan kebijaksanaan yang tersaji pada setiap kalimat dan kata bertaut seperti seni dalam kehampaan dan kesendirian tetapi mempunyai rasa semuanya adalah tentang esensi yang tersamarkan oleh sebuah kata sementara. I mean ternyata selega ini rasanya mengikhlaskan, rasanya berdamai dengan diri sendiri dan kembali menemukan titik tenang. Akhirnya bisa tertawa dan tetap rendah hati dalam setiap perjuangan dan perjalanan menuju jalan pulang ke rumah. (bag*)


Komentar

Postingan Populer