Part. IV (Teruntukmu - Hamster*) Langsung ke konten utama

Entri yang Diunggulkan

"Ibu dan kata Rindu"

(..)red/Nov Ibu, aku hampir hancur diakhir tahun yang tidak pernah menentu akan  b anyak teriakan serta kata bahkan sikap cemooh dari yang bernama manusia. Ibu, sepertinya aku sangat lelah hingga kadang aku ingin pergi menyusul ke tempat ibu berada, membenci seolah aku harus di paksa berjalan dan berdiri dengan jemari – jemariku. Ibu, sudah hampir satu tahun ibu pergi ke tempat paling indah yang banyak orang bilang adalah tempat ternyaman, tapi aku tidak bisa melihatnya lagi, boleh aku sedikit bercerita tentang banyak gelisah ketika aku mau berpergian aku selalu menayakan dimana barang yang sedang aku cari, ibu selalu menemukannya dan menyimpan nya untuku ketika kecerobohan ku dan sifat karena aku pelupa, juga banyak cemas yang seperti berjalan dan diam - diam berlari terus mengikutiku, kadang nafasku saja sesak mau nya diajak berlari sampai terkadang tidak tahu arah kemana aku berlabuh dan menemukan rumah. Ibu, aku minta maaf atas semua kekelirauan dan ketidaktahuan ku. ...

Part. IV (Teruntukmu - Hamster*)




(,,)

Dalam hujan kerap terselip kesedihan : rindu yang kejam dan bayangmu terus tergenang dikepala. Aku bahagia dengan apa yang aku lakukan dalam hidupku, rasa yang semakin lama tertancap di dalam tulang rusuk yang sementara terbalut dengan kedamaian yang tidak bisa di tukar oleh apapun. Aku pernah terluka pada waktu yang mungkin tidak bisa diputar kembali, ingin rasanya berasa di waktu dan dimasa itu, mengulang semuanya dengan waktu dan ruang yang kita punya. Semuanya hanya ilusi terlambat yang tidak bisa hanya dengan pelukan. Kebodohan terus membayangi setiap langkah-langkah penuh ego dan banyak menyalahkan diri sendiri.


                                      



-foryou*

 Harus dengan terpaksa semakin hari yang telah terlewati diri ini yang terkadang lugu sungguh membenci yang katanya selalu di banggakan. Aku bukan bulan yang selalu menyinari langkah-langkah mu disetiap rintikan hujan dan aku bukan juga matahari yang selalu memberi hangat saat bimbang rasa membutuhkan pelukan yang pelik. Pernah bersenda gurau dengan senyuman senja, dan lembayung gumam menggulum yang kadang bungkam berdesir tak terdengar dengan jingga yang aku lihat indah sorot matanya syahdu membuat jatuh hati tanpa tapi.


Komentar

Postingan Populer